28
Feb
10

Tentang Kematian, Karya Syamsul Rijal Hamid

Sabtu, 19 Desember 2009

23.47

Karya  Syamsul Rijal Hamid

1. KEMATIAN TAK TERELAKKAN

 “Tiap-tiap yang bernyawa pasti akan mati” (Ali Imran:185)

Dari ayat tersebut jelaslah bahwa kematian adalah kodrat yang telah digariskan oleh Allah SWT. Tak seorangpun yang kuasa menolaknya. Juga tidak kecuali para malaikat.

Firman Allah SWT. Katakanlah (Muhammad). “sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya oarang-orang yang telah ditakdirkan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh (menemui ajalnya)” (QS Ali Imran: 154)

Kematian, memang tak terelakkan. Cukup banyak bukti kebenaran firman Allah SWT tersebut. Salah satunya adalah kisah yang paling populer yang menimpa seorang pemuda pada zaman nabi Sulaiman as.

Suatu hari, malaikat Izrail menampakkan dir sebagai seorang laki-laki dan bertamu ke rumah nabi Sulaiman as. Dalam kesempatan itu, ia memandang tajam pada seorang pemuda yang berada di antara mereka. Seketika pemuda tersebut ketakutan. Terlintas dalam pikiran si pemuda, bahwa Izrail akan mencabut nyawanya.

Sedemikian takutnya pemuda tersebut pada mati, maka setelah malaikat pencabut nyawa itu pergi, ia memohon keapda Nabi Sulaiman. “ wahai Nabi Allah, aku mohon sudilah kiranya tuan menyuruh angin membawaku ke negeri Cina.” Maksudnya tidak lain agar ia terhindar dari kematian.

Nabi Sulaiman mengabulkan permintaan pemuda itu, dengan menyuruh angin menerbangkan pemuda tersebut ke negeri Cina. Sesaat kemudian, malaikat Izrail kembali menjumpai Nabi Sulaiman.

Tana basa-basi nabi Sulaiman as. Menanyakan tentang makna pandangan malaikat Izrail yang menakutkan pemuda tadi.

“sesungguhnya aku diperintah oleh Allah SWT mencabut nyawa pemuda itu di negeri Cina, pada saat yang telah ditentukan Nya.”jawab malaikat Izrail. “ itulah sebabnya aku kagum melihatnya berada di dekat Tuan.”

Nabi Sulaiman as. pun menceritakan tentang permintaan pemda tersebut.

“ ya, aku telah mencabut nyawanya di negeri Cina,” tegas malaikat maut.

Dikisahkan pula bahwa dulu ada seorang pemuda yang senantiasa berdoa. “ya Allah, ampunilah aku dan ampunilah pula malaikat penjaga matahari.”

Mendengar doa pemuda tersebut , malaikat penjaga matahari memohon izin pada Allah SWT agar diperkenankan mengunjungi si pemuda. Begitu mendapat izin dari Allah SWT, malaikat penjag matahari segera turun ke bumi untuk menziarahi pemuda itu.

“engkau senantiasa mendoakan aku. Sesungguhnya apakah yang engkau inginkan dariku?” tanya malaikat penjaga matahari.

“aku berharap sudilah engkau membawaku ke tempatmu,”jawab si pemuda.”Setelah itu, aku mohon sudilah kiranya engkau menanyakan mengenai ajalku kepada malaikat Izrail.”

Atas izin Allah SWT, malaikat penjaga matahari membawa pemuda itu ke tempat tugasnya. Setelah sampai di sana, malakat penjaga matahari mendatangi tempat malaikat Izrail untuk mennayakan perihal ajal pemuda tadi.

Malaiakt Izrail membuka-buka dan meneliti catatan maut. “ Sesungguhnya pemuda itu memiliki kesopanan yang luar biasa.” Jawab Izrail.” Oleh karena itu Allah SWT menakdirkan dia meninggal dunia setelah menduduki kursimu.”

“Sekarang ia sedang berada di kursiku,” jawab malaikat penjaga matahari.

“ia akan meninggal di sisi Rasul kita. Yang demikian ini mereka tidak mengetahui.”

0.46

Minggu, 20 Desember 2009

23.39

Apakah al-Maut itu?

Hanya malaikat Izrail yang memperoleh  wewenang dari Allah SWT untuk mencabut nyawa/mematikan makhluk hidup. Ketika Allah SWT menciptakan al-Maut / “mati” dan menyerahkan kepadanya, bertanyalah Izrail : “Wahai Tuhanku, apakah Al-Maut itu?”

Allah SWT menyibakkan tabir-tabir rahasia al-Maut sehingga malaikat Izrail melihatnya. Kemudian Allah SWT memerintahkan segenap malaikat untuk menyaksikannya “Terbanglah kalian, dan lihatlah inilah yang disebut al-Maut.”

Menyaksikkan kebesaran Al-maut, seketika para malaikat terpelanting dan pingsan selama seribu tahun. Setelah siuman, mereka bertanya kepada Allah SWT.”Wahai Tuhan kami, apakah Engkau menciptakan juga makhluk yang lebih besar dari al-Maut itu?”

“Aku menciptakan Al-Maut itu, dan Akulah yang lebih agung daripadanya.” Allah SWT berfirman.” Semua makhluk yang bernyawa pasti akan merasakan Al-Maut .”

Para malaikat mendengarkan-Nya dengan kepatuhan.

“Hai Izrail, “firman Allah SWT selanjutnya.”Kuserahkan Al-Maut ini kepadamu. Ambillah.”

“Yaa Tuhanku, “ jawab Izrail.”Bagaimana mungkin aku dapat mengambilnya, sedangkan aku lebih kecil darinya.”

Seketika Allah SWT mengaruniakan kekuatan kepada Izrail, sehingga ia dapat menguasai Al-Maut.

Kemudian Al-Maut memohon kepada Allah SWT.”Yaa Tuhan, izinkanlah aku menyeru di langit untuk sekali ini saja.”

Allah SWT mengabulkan permohonannya, maka berteriaklah ia memproklamirkan diri : “Akulah Al-maut yang bertugas memisahkan seorang kekasih dari kekasihnya. Akulah Al-maut yang bertugas memisahkan anak-anak dari ibunya. Akulah Al-maut yang bertugas memisahkan saudara laki-laki dan saudara perempuan. Akulah Al-maut yang bertugas menghancurkan rumah-rumah dan gedung-gedung. Akulah Al-maut yang bertugas meramaikan kuburan. Akulah Al-maut yang bertugas mencari dan menjemput makhluk hidup, walau kalian berlindung di benteng yang rapat dan kuat. Dan tiada seorang pun makhluk yang tidak merasakan aku.”

Untuk mengetahui saat-saat bagaimana ruh seorang hamba harus dicabut, malaikat Izrail bertanya pada Allah SWT. “ Wahai Tuhanku, kapankah aku harus mencabut nyawa makhlukMu?”

“Hai Izrail,” firman Allah SWT. “Hanya Akulah yang mengerti soal ini dan Akulah yang akan memberitahukan kepadamu, apabila saatnya tiba. Untuk itu Aku buatkan tanda-tanda yang berdiri padanya.”

Sebagai tanda kepada malaikat Izrail bahwa ia harus mencabut nyawa seorang makhluk, menurut Ka’bil Akhbar, Allah SWT menciptakan sebuah pohon raksasa di bawah Arsy. Daun pohon tersebut sebanyak jumlah makhluk hidup. Dengan pengertian, setiap daun mewakili seorang makhluk.

Apabila seorang makhluk telah mendekati kematian, atau umurnya tinggal empat puluh hari, jatuhlah salah satu daun pohon tersebut ke tempat malaikat Izrail. Dengan demkian ia mengetahui adanya perintah mencabut nyawa seorang makhluk yang terwakili oleh daun itu.

0.09

Advertisement

2 Responses to “Tentang Kematian, Karya Syamsul Rijal Hamid”


  1. 1 janoko edane
    March 2, 2010 at 3:59 pm

    heheheheh cuma mampir aja kok….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.